Mahasiswa STIKOM Yos Sudarso Raih Bronze Medal lewat DengueGuard
Kembali ke Berita
Achievements

Mahasiswa STIKOM Yos Sudarso Raih Bronze Medal lewat DengueGuard

Rabu, 19 Agustus 2026
Oleh Gabriel Rosa Dini Caesarani

Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi STIKOM Yos Sudarso, Syamsu Wahidin, berhasil meraih Bronze Medal dalam ajang International Student Festival (ISF) 2026 pada subtema Technology. Prestasi tersebut diraih melalui inovasi DengueGuard, sebuah sistem prediksi risiko demam berdarah dengue (DBD) berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

ISF 2026 merupakan kompetisi esai internasional yang mengusung tema “Youth Innovation for Sustainable and Inclusive Global Transformation”. Kompetisi ini diselenggarakan melalui kolaborasi antara Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram dan Fakultas Pertanian Universitas Nahdlatul Wathan, serta terbuka bagi mahasiswa dan pelajar untuk mengembangkan gagasan inovatif dalam menjawab berbagai persoalan sosial dan sains.

Rangkaian puncak ISF 2026 berlangsung secara luring pada 4–6 Juli 2026 di Lombok, Indonesia. Sekitar 200 peserta dari berbagai perguruan tinggi dan negara mengikuti kompetisi tersebut. Para finalis diwajibkan mempresentasikan poster inovasi secara langsung di hadapan dewan juri melalui sesi Exhibition and Judging Session.

Bagi Syamsu, keikutsertaan dalam kompetisi tersebut menjadi kesempatan untuk membawa hasil riset dan pengembangan teknologi ke ruang yang lebih luas. DengueGuard dikembangkan untuk memanfaatkan teknologi dalam melakukan prediksi risiko DBD sehingga dapat menjadi salah satu pendekatan dalam memahami potensi penyebaran penyakit berdasarkan data yang tersedia.

Ide DengueGuard berawal dari penelitian dosen yang sebelumnya melibatkan Syamsu. Kesempatan mengikuti ISF 2026 kemudian diperoleh melalui informasi dari rekan satu tim yang aktif mengikuti berbagai kompetisi. Penelitian tersebut selanjutnya dikembangkan dan dikemas menjadi sebuah inovasi yang diajukan dalam kompetisi tingkat internasional.

Dalam proses pengembangannya, Syamsu bersama tim merancang arsitektur sistem menggunakan sejumlah metode machine learning, di antaranya Support Vector Machine (SVM), Random Forest, dan XGBoost. Selain mempersiapkan sistem, tim juga menyusun poster, mempersiapkan kebutuhan presentasi, serta melakukan latihan untuk menghadapi sesi tanya jawab bersama dewan juri.

Tantangan terbesar dalam proses tersebut adalah menyampaikan sistem DengueGuard yang cukup kompleks dalam bentuk yang sederhana dan mudah dipahami. Dengan waktu presentasi yang terbatas, Syamsu harus mampu menjelaskan gagasan, cara kerja, serta potensi manfaat inovasi secara ringkas dan terstruktur kepada dewan juri.

Dalam sesi penjurian, Syamsu mendapatkan waktu tujuh menit yang terdiri atas empat menit presentasi dan tiga menit sesi tanya jawab. Penilaian dilakukan berdasarkan tiga aspek utama, yaitu isi (content), desain dan format poster (poster formatting and design), serta cara penyampaian (delivery). Dari tahapan tersebut, DengueGuard berhasil memperoleh Bronze Medal pada subtema Technology.

Syamsu mengaku bersyukur dan bangga atas pencapaian tersebut. Menurutnya, medali yang diraih merupakan hasil dari proses riset, pengembangan ide, serta kerja sama tim yang dilakukan sejak tahap persiapan hingga kompetisi.

“Pencapaian ini menjadi pengalaman yang sangat berarti karena hasil riset yang kami kembangkan dapat dibawa ke tingkat internasional. Bagi saya, ini juga menjadi motivasi untuk terus mengembangkan karya yang memiliki manfaat,” ujar Syamsu.

Selain pencapaian di kompetisi, pengalaman mengikuti ISF 2026 memberikan kesempatan bagi Syamsu untuk melihat berbagai inovasi dari peserta lain dan bertukar pengalaman dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang. Ia menilai pengalaman tersebut memperluas pandangannya mengenai bagaimana sebuah gagasan dapat dikembangkan menjadi inovasi yang mampu menjawab persoalan di masyarakat.

Keberhasilan DengueGuard tidak terlepas dari dukungan keluarga, rekan satu tim, serta STIKOM Yos Sudarso yang memberikan fasilitas dan dorongan selama proses riset hingga kompetisi. Syamsu menilai kekuatan gagasan, penyajian inovasi yang terstruktur, dan kerja sama tim menjadi bagian penting dalam pencapaian tersebut.

Bagi Syamsu, Bronze Medal yang diraih bukan menjadi akhir dari pengembangan DengueGuard. Ia berencana membawa inovasi tersebut ke tahap pilot project di lapangan agar sistem yang dikembangkan dapat terus diuji dan disempurnakan. Ia juga membuka peluang untuk mengembangkan inovasi teknologi lainnya dan mengikuti kompetisi dengan tingkat yang lebih tinggi.

“Jangan pernah ragu untuk mencoba dan memanfaatkan peluang. Mulailah dari riset atau permasalahan yang ada di sekitar kita, lalu kembangkan menjadi solusi berbasis teknologi dengan sungguh-sungguh,” pesannya kepada mahasiswa STIKOM Yos Sudarso.

Ia berharap STIKOM Yos Sudarso dapat terus membangun iklim akademik dan riset yang mendorong mahasiswa untuk berani mengembangkan gagasan menjadi karya nyata. Menurutnya, semakin banyak mahasiswa yang berani melakukan riset, berinovasi, dan membawa karyanya ke berbagai kompetisi, semakin besar pula peluang untuk memberikan kontribusi sekaligus membawa nama STIKOM Yos Sudarso ke tingkat yang lebih luas.

Dipublikasikan diAchievements
Kembali ke daftar berita

Lanjut Baca

Berita terkait dari lingkungan kampus

Lanjutkan membaca artikel lain yang relevan dengan kategori achievements, topik, dan aktivitas STIKOM Yos Sudarso.

Semua Berita